Pages

Labels

Followers

Tag Cloud

Jumat, 25 November 2011

Puisi Cinta

Dirimu (M.R.B.S)

Kau yang dulu taburkan
Benih-benih cinta dalam hatiku
Kau dulu yang selalu buatku tersenyum
Kau dulu yang buatku senang

Dirimulah yang bisa mengubah
Hidupku, dan sikapku
Hanya kau yang bisa buatku
Bangkit dari keterpurukan

Tapi kenapa kau juga yang yang
Menghancurkan cinta suciku padamu
Menghancurkan harapanku
Menghancurkan hati dan perasaanku

Sunguh aku tak menyangka
Dirimu seperti itu
Aku tak menduga kau
Sekeji itu berbuat padaku

Minggu, 20 November 2011

Pidato Bahasa Jawa

السلا م عليكم ورحمة الله وبر كا ته
Poro Bapak, Poro Ibu sederek-sederek, sebangsa lan setanah air, ingkang kulo hormati !
Langkung rumien monggo kulo lan panjenengan sedoyo samiho nglahiraken raos puji syukur dateng ngarsanipun Alloh SWT, ingkang sampun paring Rohmat, Taufik soho Hidayah dateng kulo lan panjenengan sedoyo, sehinggo wonten ing majelis puniko, dalam rangka memeriahkan Peringatan dinten ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ingkang kaping 66 mugi-mugi kerawuhan kulo lan panjenengan menika dipun catet dening Alloh SWT minongko dados amal soleh. Amin.
Kaping kalih Rahmat lan salam bahagia Alloh tetep dipun limpahaken dateng junjungan kito Nabi Besar Muhammad SAW, soho poro ahli keluarga lan sahabatipun.
Kaping tiganipun kulo matur nuwun dateng sederek pembagi acara ingkang sampun paring wekdal dateng kula kangge mengisi wontenipun acara menika.
Poro rawuh ingkang kulo hormati !
Alloh SWT sampun paring nikmat dateng poro kawulonipun meniko sampun katah sanget, sehinggo ngantos mboten saget kito itung. Dawuhipun Alloh wonten Al-Qur’an ingkang artosipun : “Lan lamun siro ngitung marang nikmate Alloh, mongko siro ora biso ngitung
Poro Rawuh ! Dene termasuk salah setunggalipun nikmatipun Alloh ingkang ageng dipun parengaken kita bangsa Indonesia, Inggih menika nikmat kemerdekaan ingkang dipun proklamiraken tanggal 17 Agustus 1945, ngantos dinten menika kita peringati.
Menawi kita renungaken sejarah Bangsa Indonesia sakderengipun merdeka, meniko pinten-pinten tahun dipun jajah bangsa Asing. Inggih meniko dipun jajah dening Belanda lan Jepang ngantos pinten-pinten tahun Rakyat Indonesia urip sajroning jajahan. Rakyat Indonesia mboten nggadah kebebasan, di tindas lan dipun aniayaya dening bangsa asing. Sehinggo berkat sifat Rohman Rohim Alloh SWT, lan ugi kanti semangat perjuanganipun Para Pahlawan lan para Pejuang Bangsa Indonesia ingkang giat lan gigih, wani , pantang mundur, para Pejuang kito saget ngalahaken para kaum penjajah sehinggo tepat tanggal 17 Agustus 1945, Bangsa Indonesia memproklamasikan dinten Kemerdekaan Republik Indonesia.
Poro Rawuh Ingkang kulo hormati !
Pramilo kito kedah bersyukur dateng Alloh SWT ingkang sampun pareng nikmat Rupi kemerdekaan. Supados Negri kito tansah dipun paringi berkah dening Alloh. Lan kita ugi kedah matur nuwun dating para pahlawan lan para pejuang ingkang sampun jerih payah, rela ngorbanaken jiwa raga dunya brono kangge ngerebut kemerdekaan menika
Poro rawuh ingkang kulo hormati !
Saka peristiwa menika, monggo kita sebagai penerus bangsa kudu njaga negara kita.
Sakmenika ngkang saget kula sampeaken. Mugi-mugi saget migunani. Kurang lan lampahipun kula nyuwun pangapura.

والسلا م عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Jumat, 18 November 2011

Cerpen Cinta


Dia Hilang untuk Selamanya

“ Hai Dick…..” sapa Nadia
“ Hai juga Nadia, sendirian aja nich?” Dicki balik bertanya
“ Ea nich….. Kamu ada acara apa ngak? Kalo ngak ada, anterin  aku ke toko buku yuk.” Ajakku pada Dicki
“ Gak da Kok, Ya udah ayo kita pergi.”
Dicki adalah salah satu teman terbaikku. Sungguh malang sekali nasibnya, dia tidak bisa memiliki orang yang dicintainya. Dia menyukai sahabatku juga. Namanya  Jesika, tapi Jesika mencintai orang lain. Padahal Dicki rela ngelakuin apa saja buat Jesika. Tapi Jesika tidak pernah menyadarinya. Sepuluh menit aku mengendarai mobil dengan Dicki akhirnya kami sampai di Toko buku. Namun aneh, tiba-tiba kakiku susah untuk digerakkan. Lalu ada seorang wanita separuh baya memanggilku, ternyata Tante lusi. Tante Lusi adalah mama dari Mantan pacarku.
“ Ada apa nak kok kamu duduk begitu didepan toko buku? Tanya Tante Lusi
“ Tidak ada apa-apa tante.” Jelasku.
“ Ogh… sama nak Dicki ya. Bagaimana kabarnya?”
“ Baik tante. Tante saya masuk dulu ya.” Dicki melangkahkan kakinya memasuki toko, akupun mengikutinya  pergi masuk ke dalam toko mencari buku dan novel yang aku inginkan. Setelah mendapatkan apa yang aku cari, Dicki mengantarkan aku pulang. Dalam kamar aku duduk termenung memandangi fotoku dan Yoga. Ya Yoga adalah mantan pacarku, Dia adalah cinta pertamaku. Dialah yang mengenalkan ku pada cinta. Sekaligus  dia juga yang menggoreskan luka dihatiku. Sudah lama aku tak berjumpa dia. Ini bukan karena aku dan dia bermusuhan tapi, karena dia harus melanjutkan studinya keLuar Negeri. Memang kami dulu putus tidak dengan cara yang baik tapi akhirnya kami bisa bersatu sabagai kakak dan adik. Satu tahun sudah aku tidak mendengar kabar darinya lagi. Aku sudah brusaha mencari keberadaannya. Tapi tidak ada hasilnya.
******
       Di kampus masih terasa hening setelah kepergian Putra. Putra adalah Pria yang popular di Kampus kami. Dia adalah captain basket andalan kampus. Dia selalu dipuji-puji para Dosen karena telah menorehkan banyak prestasi di kampus kami. Dan tak sedikit wanita yang antri ingin berlabuh dihatinya. Yang merasa paling kehilangan atas kepergian Putra adalah Jesika. Karena selama ini Jesika menyukai Putra, Begitu pula sebaliknya. Putra juga menyukai Jesika, tapi Putra tidak pernah menyatakan cintanya pada Jesika karena dia tidak bisa membahagiakan Jesika. Dan Putra juga tau bahwa hanya Dickilah yang bisa membahagiakan Jesika. Karena Dicki sanggat mencintai Jesika dan rela malakukan apa saja demi Jesika. Dalam detik-detik terakhir Jesika mendampingi Putra.
“ Jes….” Pangil Putra
“ Iya ada apa put. Apa kamu butuh sesuatu?”
“ Tidak, aku hanya ingin bertanya padamu. Apa kamu cinta aku Jes?”
“ Kenapa kamu tanya seperti itu?”
“ Aku hanya ingin meminta satu hal padamu bila kamu memang mencintai aku.”
“ Apa yang kamu minta. Pasti akan aku kabulkan.”
“ terimalah Dicki sebagai pacarmu. Kamu rela kan melakukan itu demi aku?.”
“ Tapi aku hanya mengangapnya teman. Yang aku sayang adalah kamu.”
“ Demi aku Jes, please penuhi permintaan ku ini.”
“ Baiklah, demi kamu. Aku rela ngorbanin perasaan ku ini.”
Ya itulah percakapan terakhir antara Jesika dan Putra. Setelah malam itu Jesika akhirnya menepati janjinya pada Putra. Sungguh itu adalah moment yang membuatku terharu. Andai aku bisa bersatu kembali dengan Yoga. Pasti kami dapat bersenang-senang bersama seperti dulu.
******
“ Adugh yang baru jadian, romantisnya……..” godaku pada Dicki dan Jesika yang sedak asyik duduk dibawah pohon
“ Aggh…. kamu bisa aja Nad.” Balas jesika
“ Alah bilang aja kamu iri ma kita? Udagh ngaku aja.” Tambah Dicki
“ Kalo iri mang napa.” Jawabku
“ Ya gak papa, kamu pacaran aja tuh sama Mbah Gito. Udah nungguin tuh dibawah pohon dekat tong sampah sana.” Ledek Dicki
“ Gila lo.” Jawabku ketus sambil melemparkan buku materi kuliah.
       Aku bahagia melihat sahabatku bahagia, malihat Dicki bisa memiliki orang yang dicintainya. Dan melihat Jesika bisa tersenyum kembali setelah kepergian Putra. Walau aku tak bisa merangkai kebahagiaanku sendiri tapi aku senang jika orang-orang disekitarku dapat tersenyum. Tak berapa lama aku melamun dibawah pohon yang daunnya mulai berguguran tiba-tiba lamunanku bubar. Setelah ada seseorang yang memegang bahuku. Aku langsung menoleh. Dan ternyata Itu adalah Yoga.
“ Yog….ga.”
“ Ya ini aku Nadia, aku Yoga.”
Aku hanya terdiam dalam ketidak percayaanku. Pria yang aku tunggu-tunggu sekarang ada dihadapanku.
“ Nadia, Kanapa kamu diam? Apa kamu tidak suka bertemu aku?”
“ Ogh, tidak. Bukan… bukan…., aku senang kok.”
“ Kok ekspresi kamu gitu?.”
“ Tidak papa kok. Bagaimana kabarmu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Karena tidak mungkin aku mengaku pada Yoga kalau aku sangat bahagia karena dia ada dihadapanku lagi.
“ Baik, Ogh ya mungkin kita tak bisa kayak dulu lagi Nad.”
Aku tak menjawab perkataan Yoga dan langsung lari meninggalkan Yoga. Jujur saja hatiku sakit atas perkataan Yoga barusan. Padahal aku sanggat bahagia karena aku dapat bertemu lagi dengannya. Tapi kenapa harapanku itu sirna. Apa mungkin dia membenciku atau ….. sudahlah kenapa aku memikirkan hal itu. Toh selama ini belum tentu dia memikirkan aku.
******
       Semenjak kejadian disore hari itu. Aku gak pengen ketemu lagi dengan Yoga, Aku benci dia. Kenapa dia  bilang kalau kita tak mungkin bisa seperti dulu lagi. Padahal dia pernah bilang kalau dia masih mencintai aku. Dan jika kita bisa bertemu lagi. Dia akan membangun istana cinta kita berdua yang sudah tiga tahun hancur. Tapi kenapa setelah bertemu dia bicara seperti itu.
  Nadia, jalan yuk. Aku tau pasti kamu lagi suntuk. Ya kan…..?” Ajak Jesika
“ Mang jalan kemana sih Jes?”
“ Udah deh, kamu ikut aja. Jangan banyak coment. Jangan lupa bawa baju yak karena kita akan tinggal beberapa hari disana.
“ oke. Oke…. Aku nurut dac.”
Sepuluh menit aku menunggu, Jesika dan Dicki datang menjemputku. Didalam mobil kami bernyanyi bersama-sama sambil bercerita-cerita. Sungguh aku merasa senang sekali. Perjalanan kami menuju puncak kurang 5kilo lagi tapi aku sudah tidak tahan menahan hasratku untuk pergi kekamar mandi. Akhirnya Dicki berhenti diSPBU terdekat. Aneh sekali saat aku melangkahkan kakiku masuk dalam kamar mandi. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang, tapi tak aku hiraukan. Setelah itu aku pergi meninggalkan SPBU tiba-tiba ada yang menarik tanganku dengan erat. Ternyata Yoga… Aku hanya terdiam dan berusaha melepaskan tangannya.
“ Nad, aku mau berbicara denganmu.”
Aku tidak menghiraukan dia dan langsung pergi meninggalkan dirinya.
*****
       Karena rasa capek kami bertiga bangun kesiangan. Tapi itu tidak mengubah jadwal kami untuk bersenang-senang. Pukul sepuluh tepat aku berjalan-jalan dengan Jesika dan Dicki. Kami berbelanja sepuas-puasnya dan berfoto-foto. Sungguh saat itu aku tidak merasakan beban apapun. Sekitar pukul tiga sore tante Lusi menelefonku.
“ Nadia, kamu sekarang dimana?”
“ Nadia sekarang ada di Pantai tante. Memangnya ada apa tante?”
“ Nadia cepat datang kerumah tante.” Suruh Tante sambil menangis
Aku pun buru-buru menuju kerumah Tante Lisa. Setelah sampai disana aku melihat banyak orang disana. Aku langsung menuju ruang tengah, disana aku melihat tante Lisa menangis disamping seseorang yang terbujur kaku yang hanya memakai kain putih. Tapi aku tidak tahu siapa itu. Karena satahu ku Om Robert sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Dan Yoga adalah anak tunggal. Apa mungkin yang terbujur itu adalah Yoga……?? Tanpa kata sedikitpun aku mulai mendekati tante Lisa.
“ Tante.” panggilku
Tante lisa langsung memelukku dan menangis dipundakk
“ Nadia, Yoga…. Yoga…. Meninggal…….. Ini ada surat untukmu

To : Nadia yang ku sayang
            Maafkan aku jika selama ini aku tak memberikan kabar padamu. Aku mengerti perasaanmu padaku. Aku mengatakan bahwa kita tidak mungkin bisa seperti dulu karena aku akan meninggalkan dunia ini. Jangan tangisi aku karena aku sudah tenang di duniaku sekarang. Ku harap kamu bisa bahagia tanpa ada aku lagi disisimu.
                        Yang selalu mencintaimu
                                    Yoga

  Aku hanya bisa meneteskan air mataku dan merasa sangat menyesal karena disaat-saat terakhir aku tidak bisa menemani Yoga. Aku tidak bisa seperti Jesika yang siap menemani Putra hingga hembusan nafas terakhirnya.
Oleh karena itu, hargailah orang yang berada disekitar kalian. Ayah, Ibu, Saudara, Teman atau bahkan orang yang baru kita kenal. Kita baru merasa kehilangan saat orang itu tidak berada disamping kita lagi.
END



Rabu, 02 November 2011

Mati

Wuuuussssttttt............... terdengar suara angin yang bertiupan seakan menandakan malam ini akan turun hujan. Suasana dikamar ini sungguh sangat dingin dan mencekam. Aku disini sendiri duduk terpaku dipojok kamar. Dengan linangan air mata yang membasahi pipi.
“ Apa salahku? Sehingga selama  satu tahun ini aku tak dianggapnya. Selama ini aku hanya sebagai pelarian cintanya.” Itu lah yang menjadi pikiranku saat itu. Aku tak mau mendengar penjelasan darinya, aku tak mau lagi mengenal dirinya. Sudah cukup kesabaranku selama ini menghadapi sikapnya. Sia-sia aku memberikan kesempatan kedua padanya. Aku tak menyangka dia akan seperti ini padaku, pertama diam-diam dia menjalin cinta dibelakangku hingga hubungan mereka berjalan dua bulan. Yang kedua selama ini aku hanya dijadikan pelarian dan pelampiasannya. Selama satu tahun ini yang Hendri cintai bukan aku, yang dia nanti dan tunggu adalah gadis lain, dan yang dia harapkan bukan cintaku tapi cinta dari Retno.
*******
            Aku jadi teringat tentang kisah cintaku yang lain. Yang akhirnya berujung dengan tangisan dan sakit hati. Dengan Rudi hubunganku berujung selingkuh. Dengan Setiyawan atau yang biasa dpanggil Awan, hubungan yang awalnya kami bangun dengan rasa pelampiasan dan rasa iseng akhirnya tumbuh menjadi sebuah cinta yang kuat, hingga hubungan kami berdua berjalan selama kurang lebih delapan belas bulan. Keluarga kami pun sudah tahu tentang hubungan kami. Dan mereka tidak melarang hubungan kami. Apa lagi Ayahnya, beliau selalu menyuruhku untuk bermain kerumahnya, namun aku tak menuruti keinginan beliau karena aku merasa tidak enak dengan tetangga diseitar rumah kami. Hubungan kami berdua berakhir di penghujung tahun 2007. Ya sebuah kata perpisahan yang terlontar dari mulutnya, yang sampai sekarang aku masih bingung dengan alasan dia, sehingga melontarkan kata-kata yang tak pernah aku harapkan. Selama 4 tahun ini aku masih mengharapkan dirinya kembali lebi-libih karena Awan adalah cinta pertamaku. Aku ingin dia  menjelaskan semuanya padaku agar semua yang semu menjadi terang.
            Kisah perjalanan cintaku yang selanjutnya dengan Atta. Yah dia adalah kakak kelasku sewaktu SMP. Kami jadian tiga hari setelah aku putus dengan Awan. Kelihatannya Awan sangat marah dan membenciku setelah dia tahu kalau aku menjalin kisah asmara dengan Atta. Tapi ini aku lakukan agar aku bisa melupakan dan tak mengharapkan cinta dari Awan. Namun ini tak berhasil, hubunganku dengan Atta hanya berjalan selama enam bulan saja.Dan  aku juga belum bisa melupakan Awan.
            Setelah itu aku memutuskan untu lebih fokus pada pelajaran. Namun masih ada godaan yang datang. Septian Budi Pratama, itulah salah satu nama teman Awan yang masuk dalam kehidupanu. Dia berkata “ Aku beranji aku akan membantumu untuk melupakan Awan. Kamu pasti bisa untuk melupakan dia.” Itulah kata-kata motivasi yang dia berikan. Akhirnya tanpa bertemu dengannya terlebih dahulu kami berpacaran. Namun hubungan kami hanya berjalan sekitar satu minggu. Karena Atta mengatakan kalau Septian sudah mempunyai pacar. Ya alloh, sakit sekali hatiku ini. Walau hati ini tak benar-benar menyukainya.
            Ya itulah kisah perjalanan cintaku yang penuh dengan kebohongan dan penderitaan. Setelah aku menjalin hubungan dengan Septian akhirnya aku bertemu dengan Hendri. Dan dialah yang selanjutnya melukai hatiku ini.
            “Hmmmmmm........ apa sebenarnya salahku? Apa ini sebuah karma? Tapi aku hanya berselingkuh satu kali. Namun kenapa lima kali aku berpacaran. Empat kali aku dihianati?” aku bertanya sendiri dalam hati.
“Oh Tuhan... Apa tidak ada sebuah kebahagiaan yang datang padaku?
*******
            Keesokan harinya aku bercerita pada sahabatku tentang masalahku ini.
“ Vir, aku putus lagi dengan
hendri” kataku pada teman sebangkuku
“ Lha apa masalahnya?” tanya Virgi
“ Selama ini dia tidak menganggap aku Vir, yang dia cintai bukan aku tapi Retno.”
“ Maksud kamu Retno alumni SMA Negeri 5 itu?”
“ Iya, ternyata selama ini Hendri udah berbohong. Mereka sudah mengikat janji kalau hendri sudah bekerja maka hubungan mereka akan direstui oleh kedua orang tua Retno.”
“ Jadi sekarang Hendri sudah direstui sama orang tua Retno?”
“ Nggak Vir, orang tuanya masih tidak mengizinkan hubungan mereka. Mangkanya Hendri sekarang merasa kecewa dan marah. Aku menghargai kejujuran Hendri, tapi hatiku sakit. Namun aku masih sayang Dia Vir, aku bingung.”
“ Sudahlah Tya, yang sabar aja. Tapi berarti selama ini kamu hanya pelariannya saja?.”
“ Aku tak  tahu,  kemarin aku tanya padanya. Dia malah balik nanya padaku.”
“ Memangnya dia tanya apa padamu?”
“ Dia tanya padaku gini ‘ kalau selama ini aku tidak benar-benar mencintaimu, Kenapa setia malam aku pasti menyuruh kamu mematikan handphone kamu dan menyuruh kamu belajar. Dan untuk apa aku nyuruh kamu untuk berusaha meminta restu orang tua kamu tentang hubungan kita?’ aku jadi bingung vir.”
“ Sudahlah jangan terlalu dipikirkan Tya. Kamu jalani saja semuanya. Pasti ada hikmah dibalik semua ini.”
            Mendengar perkataan Virgi aku merasa agak tenang, namun aku masih memikirkan masalah ini. Aku sungguh tidak menyangka jika hubunganku dengannya harus berujung seperti ini. Malam harinya aku menyalakan Laptop yang selalu menemaniku dan selalu menjadi tempat curahanku. Malam ini aku tak bersemangat untuk membuka buku. Dalam keadaan tidak sadar, tiba-tiba terdengar ponselku berbunyi. Ternyata ada pesan yang masuk.
“ Ahh... pesan dari Hendri. Mau apa lagi dia? Apa dia belum puas menyakiti aku?” Tanyaku sendiri dalam hati. Setelah aku buka ternyata masih sama dia menjelaskan semuanya. Dan kali ini dia mengajakku untuk kembali padanya. Namun sulit sekali rasanya menerima dirinya kembali setelah apa yang telah dia perbuat padaku walau sejujurnya masih ada rasa sayang pada dirinya. Masih terlarut aku dalam hayalan kenangan masa lalu. Tiba-tiba terdengar lagi suara handphoneku berdering. Ternyata ada pesan dari Dika dan Rudi. Akhirnya aku bercerita pada mereka tentang masalahku dengan Hendri. Setelah mendengarkan ceritaku tadi Rudi mempunyai inisiatif, dia akan mengenalkanku pada temannya. Akupun tak bisa menolaknya karena aku ingin membuka lembaran baru dan bisa melupakan Hendri sekaligus Awan. Lain halnya dengan Rudi, Dika malah menelephoneku dan menghiburku.
“ Hallo,,,, assalamu’alaikum.” Sapa Dika memastikan ada yang menjawab.
“ Walaikumsalam. Ada apa?” tanyaku
“ Tidak ada apa-apa. Apa ngak boleh aku menephonemu?”
“ Ya boleh sajalah, tapi... aneh saja.”
“ Aneh kenapa?”
“ Ya aneh saja.”
“ Ya kamu itu yang aneh. Eh apa kamu ngak dimarahin. Kalau aku menelephonemu?”
“ Ngak ada kok. Memang siapa juga yang marah?”
“ Ya barang kali pacar kamu, atau orang tuamu?”
“ Udah jangan bahas lagi tentang pacar. Aku ngak punya pacar. And kalau orang tua, ngak marah kok. Kan aku ngak tingal bersama mereka.”
“ Loh terus kamu tinggal dimana? Kamu kos kah?”
“ Ngaklah, aku tinggal sama nenek, tapi kadang pulang kerumah ortu sich.”
“ Oh begitu.... aku kemarin lewat rumah kamu lo Tya?”
“ Yang benar, eamangnya kamu tahu rumahku?”
“ Kemarin aku main kerumah temanku, dan aku dikasih tau sama dia.”
“ Oh begitu ya?”
            Itulah awal kedekatanku dengan Dika. Entah apa yang terjadi denganku. Aku merasa nyaman sekali bila bersamanya.
*******
            Pagi-pagi sekali aku merasakan sesuatu yag berbeda. Aku merasa sangat bersemangat. Entah apa yang membuatku seperti ini. Dan aku ingin dengan Dika. Aku ingin mendengar suaranya.
            Saat-saat yang aku tunggu pun datang, pukul 21.00 tepat dia kembali menelephoneku. Namun malam ini rasanya aku tak ingin telephone ini berakhir. Akhirnya pukul 00.08, aku ganti yang menelephonenya karena pulsa Dika sudah habis. Telephone kami berakhir pukul 03.00 karena Rizky menyuruhku untuk sholat malam. Namun setelah itu kami melanjutkannya lagi sampai subuh. Pagi-pagi mataku sulit untuk dibuka. Aku merasa sangan ngantuk sekali karena semalam aku hanya tidur satu jam lebih tiga puluh menit. Namun rasa kantukku tiba-tiba hilang saat pelajaran olahraga. Karena hari ini ada tes fisik.
Adugh… capek bangeettt…!! Keluh teman-teman sambil menuju tepi lapangan basket
“ Iya nich, cpek banget apa lagi aku belum tidur.” Kataku
Kamu sih keterlaluan banget Tya, telephone aja sampek segitunya.”
Ya maaf, namanya ja lagi folling in love. Tapi, boleh ngak aku tiduran dipangkuanmu, bentar aja kok?”
Ya boleh-boleh aja. Mumpung ngak ada Pak Bambang.”
Malam harinya Dika menelephoneku lagi. Namun tidak seperti kemarin karena bisa-bisa besok ketiduran dikelas. Heheheh…….. J
*******
Hari sabtu pulang sekolah aku punya rencana ke warnet untuk mengerjakan tugas TIK. Namun aku tak sendirian karena aku ditemani Dika, soalnya dia mengembalikan dasi yang dipinjamnya tadi pagi. Tak mungkin jika dia mengembalikan kerumahku, karena aku sedang ada masalah dengan orang tuaku gara-gara ada tetangga yang syirik. Tanpa aku sadari ada sebuah pesan dari Hendri. Karena malas ponselku aku taruh begitu saja. Akhirnya Dikalah yang membalas pesan dari Hendri, entah apa yang mereka bicarakan. Namun ada sebuah pesan yang tidak sengaja aku baca “ Tolong jaga Tyas baik-baik selama aku di Semarang. Jangan sampai kamu menyakitinya. Kalau kamu menyakitinya, aku akan mencarimu walau sampai keujung dunia”. Setelah membaca pesan darinya aku segera menanyakannya pada Dika. Dan tak ku sangka-sangka, ternyata Rizky mengatakan bahwa dia adalah pacarku. Namun tak apalah, itu sudah terjadi.
            Seperti biasanya aku melupkan perasaanku dengan menulis, dan tiba-tiba inspirasiku dibuyarkan dengan nada ponselku yang berbunyi. Ternyata Dika, aku segera mengangkatnya. Namun ternyata yang menelephon bukanlah Dika, melainkan Kakaknya. Aku tak menyangka Kak Ielmy mengatakan kalau sebenarnya Dika suka padaku. Namun dia malu untuk mengatakannya. Setelah beberapa menit kami berbincang-bincang. Akhirnya Kak Ielmy mengakhiri perbincangan kami dan disambung dengan Dika. Mendengar perkataan Kak Ielmy, seakan-akan aku mendapatkan lampu hijau. Aku tak peduli dengan apa yang aku perbuat, alhasil tanpa aku sadari aku telah mengucapkan kata-kata yang selama ini tidak pernah aku katakan, saat itu kami membahas tentang pasangan/pacar. Aku mengatakan pada Dika
“ Aku boleh daftar ngak jadi pacar kamu?” setelah itu Dika langsung bertanya
“ Apa kamu serius?” dengan malu-malu akupun menjawab “ Ya” dan aku berbalik bertanya padanya tentang perasaannya. Akhirnya Dikapun menyatakan perasaannya padaku, dan kamipun sudah menemukan kata sepakat bahwa kami akan menjalani hari-hari bersama sebagai pacar. Semenjak itu rasa dan harapanku pada Awan mati. Dan aku bisa menghapus kenangan-kenangan dan rasa sakit hatiku selama ini pada Awan dan Hendri. Aku sadar selama ini aku sangat bodoh, kanapa aku harus mencintai dan menunggu seseorang yang belum tentu mencintaiku. Aku sungguh sangat bersyukur bila rasaku pada mereka MATI.


SELESAI