Pages

Labels

Followers

Tag Cloud

Jumat, 18 November 2011

Cerpen Cinta


Dia Hilang untuk Selamanya

“ Hai Dick…..” sapa Nadia
“ Hai juga Nadia, sendirian aja nich?” Dicki balik bertanya
“ Ea nich….. Kamu ada acara apa ngak? Kalo ngak ada, anterin  aku ke toko buku yuk.” Ajakku pada Dicki
“ Gak da Kok, Ya udah ayo kita pergi.”
Dicki adalah salah satu teman terbaikku. Sungguh malang sekali nasibnya, dia tidak bisa memiliki orang yang dicintainya. Dia menyukai sahabatku juga. Namanya  Jesika, tapi Jesika mencintai orang lain. Padahal Dicki rela ngelakuin apa saja buat Jesika. Tapi Jesika tidak pernah menyadarinya. Sepuluh menit aku mengendarai mobil dengan Dicki akhirnya kami sampai di Toko buku. Namun aneh, tiba-tiba kakiku susah untuk digerakkan. Lalu ada seorang wanita separuh baya memanggilku, ternyata Tante lusi. Tante Lusi adalah mama dari Mantan pacarku.
“ Ada apa nak kok kamu duduk begitu didepan toko buku? Tanya Tante Lusi
“ Tidak ada apa-apa tante.” Jelasku.
“ Ogh… sama nak Dicki ya. Bagaimana kabarnya?”
“ Baik tante. Tante saya masuk dulu ya.” Dicki melangkahkan kakinya memasuki toko, akupun mengikutinya  pergi masuk ke dalam toko mencari buku dan novel yang aku inginkan. Setelah mendapatkan apa yang aku cari, Dicki mengantarkan aku pulang. Dalam kamar aku duduk termenung memandangi fotoku dan Yoga. Ya Yoga adalah mantan pacarku, Dia adalah cinta pertamaku. Dialah yang mengenalkan ku pada cinta. Sekaligus  dia juga yang menggoreskan luka dihatiku. Sudah lama aku tak berjumpa dia. Ini bukan karena aku dan dia bermusuhan tapi, karena dia harus melanjutkan studinya keLuar Negeri. Memang kami dulu putus tidak dengan cara yang baik tapi akhirnya kami bisa bersatu sabagai kakak dan adik. Satu tahun sudah aku tidak mendengar kabar darinya lagi. Aku sudah brusaha mencari keberadaannya. Tapi tidak ada hasilnya.
******
       Di kampus masih terasa hening setelah kepergian Putra. Putra adalah Pria yang popular di Kampus kami. Dia adalah captain basket andalan kampus. Dia selalu dipuji-puji para Dosen karena telah menorehkan banyak prestasi di kampus kami. Dan tak sedikit wanita yang antri ingin berlabuh dihatinya. Yang merasa paling kehilangan atas kepergian Putra adalah Jesika. Karena selama ini Jesika menyukai Putra, Begitu pula sebaliknya. Putra juga menyukai Jesika, tapi Putra tidak pernah menyatakan cintanya pada Jesika karena dia tidak bisa membahagiakan Jesika. Dan Putra juga tau bahwa hanya Dickilah yang bisa membahagiakan Jesika. Karena Dicki sanggat mencintai Jesika dan rela malakukan apa saja demi Jesika. Dalam detik-detik terakhir Jesika mendampingi Putra.
“ Jes….” Pangil Putra
“ Iya ada apa put. Apa kamu butuh sesuatu?”
“ Tidak, aku hanya ingin bertanya padamu. Apa kamu cinta aku Jes?”
“ Kenapa kamu tanya seperti itu?”
“ Aku hanya ingin meminta satu hal padamu bila kamu memang mencintai aku.”
“ Apa yang kamu minta. Pasti akan aku kabulkan.”
“ terimalah Dicki sebagai pacarmu. Kamu rela kan melakukan itu demi aku?.”
“ Tapi aku hanya mengangapnya teman. Yang aku sayang adalah kamu.”
“ Demi aku Jes, please penuhi permintaan ku ini.”
“ Baiklah, demi kamu. Aku rela ngorbanin perasaan ku ini.”
Ya itulah percakapan terakhir antara Jesika dan Putra. Setelah malam itu Jesika akhirnya menepati janjinya pada Putra. Sungguh itu adalah moment yang membuatku terharu. Andai aku bisa bersatu kembali dengan Yoga. Pasti kami dapat bersenang-senang bersama seperti dulu.
******
“ Adugh yang baru jadian, romantisnya……..” godaku pada Dicki dan Jesika yang sedak asyik duduk dibawah pohon
“ Aggh…. kamu bisa aja Nad.” Balas jesika
“ Alah bilang aja kamu iri ma kita? Udagh ngaku aja.” Tambah Dicki
“ Kalo iri mang napa.” Jawabku
“ Ya gak papa, kamu pacaran aja tuh sama Mbah Gito. Udah nungguin tuh dibawah pohon dekat tong sampah sana.” Ledek Dicki
“ Gila lo.” Jawabku ketus sambil melemparkan buku materi kuliah.
       Aku bahagia melihat sahabatku bahagia, malihat Dicki bisa memiliki orang yang dicintainya. Dan melihat Jesika bisa tersenyum kembali setelah kepergian Putra. Walau aku tak bisa merangkai kebahagiaanku sendiri tapi aku senang jika orang-orang disekitarku dapat tersenyum. Tak berapa lama aku melamun dibawah pohon yang daunnya mulai berguguran tiba-tiba lamunanku bubar. Setelah ada seseorang yang memegang bahuku. Aku langsung menoleh. Dan ternyata Itu adalah Yoga.
“ Yog….ga.”
“ Ya ini aku Nadia, aku Yoga.”
Aku hanya terdiam dalam ketidak percayaanku. Pria yang aku tunggu-tunggu sekarang ada dihadapanku.
“ Nadia, Kanapa kamu diam? Apa kamu tidak suka bertemu aku?”
“ Ogh, tidak. Bukan… bukan…., aku senang kok.”
“ Kok ekspresi kamu gitu?.”
“ Tidak papa kok. Bagaimana kabarmu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Karena tidak mungkin aku mengaku pada Yoga kalau aku sangat bahagia karena dia ada dihadapanku lagi.
“ Baik, Ogh ya mungkin kita tak bisa kayak dulu lagi Nad.”
Aku tak menjawab perkataan Yoga dan langsung lari meninggalkan Yoga. Jujur saja hatiku sakit atas perkataan Yoga barusan. Padahal aku sanggat bahagia karena aku dapat bertemu lagi dengannya. Tapi kenapa harapanku itu sirna. Apa mungkin dia membenciku atau ….. sudahlah kenapa aku memikirkan hal itu. Toh selama ini belum tentu dia memikirkan aku.
******
       Semenjak kejadian disore hari itu. Aku gak pengen ketemu lagi dengan Yoga, Aku benci dia. Kenapa dia  bilang kalau kita tak mungkin bisa seperti dulu lagi. Padahal dia pernah bilang kalau dia masih mencintai aku. Dan jika kita bisa bertemu lagi. Dia akan membangun istana cinta kita berdua yang sudah tiga tahun hancur. Tapi kenapa setelah bertemu dia bicara seperti itu.
  Nadia, jalan yuk. Aku tau pasti kamu lagi suntuk. Ya kan…..?” Ajak Jesika
“ Mang jalan kemana sih Jes?”
“ Udah deh, kamu ikut aja. Jangan banyak coment. Jangan lupa bawa baju yak karena kita akan tinggal beberapa hari disana.
“ oke. Oke…. Aku nurut dac.”
Sepuluh menit aku menunggu, Jesika dan Dicki datang menjemputku. Didalam mobil kami bernyanyi bersama-sama sambil bercerita-cerita. Sungguh aku merasa senang sekali. Perjalanan kami menuju puncak kurang 5kilo lagi tapi aku sudah tidak tahan menahan hasratku untuk pergi kekamar mandi. Akhirnya Dicki berhenti diSPBU terdekat. Aneh sekali saat aku melangkahkan kakiku masuk dalam kamar mandi. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang, tapi tak aku hiraukan. Setelah itu aku pergi meninggalkan SPBU tiba-tiba ada yang menarik tanganku dengan erat. Ternyata Yoga… Aku hanya terdiam dan berusaha melepaskan tangannya.
“ Nad, aku mau berbicara denganmu.”
Aku tidak menghiraukan dia dan langsung pergi meninggalkan dirinya.
*****
       Karena rasa capek kami bertiga bangun kesiangan. Tapi itu tidak mengubah jadwal kami untuk bersenang-senang. Pukul sepuluh tepat aku berjalan-jalan dengan Jesika dan Dicki. Kami berbelanja sepuas-puasnya dan berfoto-foto. Sungguh saat itu aku tidak merasakan beban apapun. Sekitar pukul tiga sore tante Lusi menelefonku.
“ Nadia, kamu sekarang dimana?”
“ Nadia sekarang ada di Pantai tante. Memangnya ada apa tante?”
“ Nadia cepat datang kerumah tante.” Suruh Tante sambil menangis
Aku pun buru-buru menuju kerumah Tante Lisa. Setelah sampai disana aku melihat banyak orang disana. Aku langsung menuju ruang tengah, disana aku melihat tante Lisa menangis disamping seseorang yang terbujur kaku yang hanya memakai kain putih. Tapi aku tidak tahu siapa itu. Karena satahu ku Om Robert sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Dan Yoga adalah anak tunggal. Apa mungkin yang terbujur itu adalah Yoga……?? Tanpa kata sedikitpun aku mulai mendekati tante Lisa.
“ Tante.” panggilku
Tante lisa langsung memelukku dan menangis dipundakk
“ Nadia, Yoga…. Yoga…. Meninggal…….. Ini ada surat untukmu

To : Nadia yang ku sayang
            Maafkan aku jika selama ini aku tak memberikan kabar padamu. Aku mengerti perasaanmu padaku. Aku mengatakan bahwa kita tidak mungkin bisa seperti dulu karena aku akan meninggalkan dunia ini. Jangan tangisi aku karena aku sudah tenang di duniaku sekarang. Ku harap kamu bisa bahagia tanpa ada aku lagi disisimu.
                        Yang selalu mencintaimu
                                    Yoga

  Aku hanya bisa meneteskan air mataku dan merasa sangat menyesal karena disaat-saat terakhir aku tidak bisa menemani Yoga. Aku tidak bisa seperti Jesika yang siap menemani Putra hingga hembusan nafas terakhirnya.
Oleh karena itu, hargailah orang yang berada disekitar kalian. Ayah, Ibu, Saudara, Teman atau bahkan orang yang baru kita kenal. Kita baru merasa kehilangan saat orang itu tidak berada disamping kita lagi.
END



0 komentar:

Posting Komentar